Ketika Hutan Merindukan Makna


Pada tahun 2009 sampai 2013 wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakan kehilangan hutan alamnya seluas 128 ribu hektar akibat aktivitas pertambangan, HTI, hak pengusahaan hutan (HPH) dan perkebunan. Hingga tahun 2013, DAS Mahakam hanya menyisakan 4,1 juta Ha hutan alam atau 50 % dari total luas wilayah DAS tersebut. Alih fungsi hutan menjadi non hutan semakin tidak bisa dikendalikan. Terlebih banyak temuan akan adanya tumpang tindih pemanfaatan kawasan antar koorporasi di lahan yang sama. Tercatat provinsi Kalimantan Timur kehilangan hutan seluas 112 ha setiap tahunnya. (FWI, 2014).
Kerja-kerja korporasi menjadi penyebab utama hilangnya tutupan hutan di sepanjang Sungai Mahakam. Korporasi yang bekerja dengan basis sumber daya lahan membutuhkan ruang hingga ratusan ribu hektar. Menjadi penyebab utama hilangnya hutan di Kalimantan. Pertambangan, perkebunan kelapa sawit, HPH, dan Hutan Tanaman Industri penyebab utama hilangnya tutupan hutan di Kalimantan Timur. Tercatat bahwa semenjak tahun 2009 sampai 2013 Provinsi Kalimantan Timur kehilangan hutannya hingga mencapai 448,494.40 hektar. Ironisnya 26.31 persen terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat, yang menjadi tumpuan resapan air di Sungai Mahakam. Tumpuan pengendali banjir di pemukiman di sepanjang sungai, bahkan Kota Samarinda sekalipun.
Tak ayal, banjir di ibukota Kaltim, yaitu Samarinda, menjadi bencana rutin yang dimaklumi. Bahkan jargon “Ikam (kamu) Barukah di Samarinda ?”, menjadi lelucon yang dilontarkan ketika menghadapi banjir yang belum ditemukan solusinya. Mengharap pemerintah daerah bertanggung jawab rasanya sangat riskan jika masyarakatnya tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dahulu banyak kampung atau daerah di kota Samarinda disebut dengan nama pohon, vegetasi yang kemungkinan dominan di tempat itu. Akhirnya nama pohon kemudian dikenal menjadi nama kampung atau daerah. Dahulu tepian jalan ditanami pohon peneduh, seperti pohon asam dan mahoni hingga besarnya melebihi satu rangkulan. Pohon-pohon yang menjadi nama kampung kemudian hilang, pohon peneduh jalanan juga lenyap akibat pelebaran. Kampung dan jalanan menjadi gersang, lebih banyak dihiasi tiang, mulai tiang antene sampai tiang listrik dan telepon. Muncullah gerakan penghijauan, penanaman. Dan yang ditanam adalah pohon-pohon yang cepat tumbuh dan tahan pada cuasa yang berubah-ubah. Salah satunya adalah Trembesi.
Menjaga hutan tidak semudah ketika manusia masih mempercayai roh, takhayul, bahkan legenda. Evolusi teknologi berimbas pula pada evolusi pola fikir dan keserakahan. Dulu ketika orang percaya bahwa di hutan bersemayam roh-roh, di pohon besar ada penunggu, di mata air ada ikan keramat dan seterusnya, tidaklah mudah bagi orang untuk menebang pohon, mengekploitasi air tanpa rasa hormat. Pohon-pohon besar harus ditebang oleh orang tertentu yang disebut pawang dan ditebang dengan kapak, bukan gergaji mesin. Mata air yang dikuras, ikannya harus ditampung dalam wadah dan kemudian dikembalikan lagi. Dan tidak ada manusia yang membuang sampah ke sungai.
Dan kepercayaan itu terkikis sehingga hutan terlebat sekalipun dibabat oleh gergaji mesin oleh siapapun yang sanggup. Dan sumber-sumber air disedot dengan mesin pompa dan ikannya digoreng tanpa sisa. Mereka yang tadinya adalah penyembah pohon kemudian menjadi penebang pohon yang paling ganas sehingga hutan lebat kemudian merangas. Pohon-pohon besar yang berada di tepi jalan, yang merupakan pohon peneduh kemudian dianggap sebagai penganggu. Akarnya dianggap merusak konstruksi jalan dan saluran air. Hingga banyak pohon yang usianya lebih tua dari kakek neneknya kemudian ditebang dan hilang. Lenyapnya pepohonan yang lebat di hutan dan pohon peneduh di jalanan, membuat lingkungan semakin panas. Bencana lebih sering terjadi, musim hujan menjadi musim banjir, musim kemarau menjadi musim kering, inilah yang senyatanya disebut sebagai perubahan iklim. (Yustinus Sapto Hardjanto).
Rusaknya hutan Kaltim berimbas pada kepunahan hewan endemik Kaltim yang menjadi ikon kota Samarinda, yaitu Pesut Mahakam. Diperkirakan jumlah Pesut Mahakam saat ini dibawah 100 ekor. Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah salah satu satwaliar Indonesia yang berada dalam kondisi terancam punah. Populasinya pada tahun 2016, tercatat sebanyak 86 individu. Karena populasinya yang kecil, sejak tahun 2000, badan koservasi dunia (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources/IUCN) menetapkan Pesut Mahakam dalam status kritis yang berarti populasinya terancam punah. Lembaga lain, yaitu CITES memasukkan Pesut Mahakam ke dalam Appendix I yang artinya peredaran jenis satwaliar yang sangat terancam punah sehingga konservasinya harus diatur dengan ketat. Tak heran jika menteri kehutanan menetapkan Pesut Mahakam sebagai jenis satwaliar yang memperoleh prioritas sangat tinggi untuk dilestarikan (Peraturan Menteri Kehutanan No. P.57/Menhut-II/2008). Selain Pesut Mahakam, terdapat beberapa jenis hewan lain yang bergantung pada kelestarian hutan DAS (Daerah Aliran Sungai) Mahakam, seperti bekantan, burung elang, enggang, dan jenis-jenis burung lainnya.
Hutan di DAS Mahakam berperan penting bagi kelestarian sungai dan eksistensi Pesut Mahakam. Hutan tidak hanya sebagai penyedia oksigen bagi makhluk hidup, namun juga sumber penghidupan biota di sungai, terutama Pesut. Hutan dan sungai di wilayah DAS harus terintegrasi pengelolaannya. Aktivitas pertambangan di lahan berhutan haruslah dikaji kembali. Kehilangan hutan berpengaruh pada kehidupan lainnya. Menjaga agar hutan tetap utuh merupakan upaya melestarikan kehidupan yang universal.
Seandainya mitos itu menjadi sebuah kenyataan, tentu manusia akan menjaga Pesut Mahakam yang dikisahkan sebagai jelmaan dua anak manusia yang berubah dikarenakan memakan nasi panas. Tidak ada manusia yang berani menebang pohon besar karena dihuni oleh roh halus. Manusia akan berpikir ketika membuang sampah disungai Karang Mumus (anak Sungai Mahakam) yang diceritakan nenek moyang sebagai alur menuju kerajaan buaya dan akan memakan korban ketika sungai menjadi kotor.
Jika ditelusuri, masih banyak masyarakat yang percaya dengan mitos, legenda, atau kepercayaan itu. Jejak evolusi kepercayaan itu masih tersisa sampai sekarang. Masih banyak yang percaya pada kekuatan jimat, sosok-sosok tertentu, roh-roh yang ada di pohon, air, gunung dan lain sebagainya. Namun lunturnya sistem kepercayaan yang berbau animisme dan dinamisme juga berpengaruh pada penghormatan pada alam dan ciptaan yang lainnya. Sistem religius paling modern cenderung menjadikan manusia menjadi pusat, semua ciptaan diabdikan untuk kepentingan manusia (antrophosertris). (Yustinus Sapto Hardjanto, Penggagas GMSS-SKM).
Menghadapi fakta tersebut, maka muncullah gerakan hijau, sebagai pola pikir manusia modern yang merasakan efek berkurangnya lahan hijau. Muncullah kesadaran yang bernuansa hijau. Perlunya kembali untuk melakukan penanaman pohon. Maka kemudian dikenal sebutan yang popular reboisasi. Bukit-bukit yang gundul ditanami, sayangnya kebanyakan pohon sejenis, sehingga dikenal sebutan Gunung Jambu, Hutan Pinus, Hutan Akasia, Bukit Sengon dan lain sebagainya.
Pinggir jalan kemudian juga ditanami lagi, muncul yang disebut Jalur Hijau, Ruang Terbuka Hijau. Ditanam dengan pohon-pohon yang cepat tumbuh, pohon yang tahan pada keadaan kering, dan tentu saja butuh perawatan, seperti harus rutin dipangkas.
Padahal sesungguhnya pepohonan ditanam bukan sekedar untuk menimbulkan pemandangan hijau. Pohon ditanam karena untuk menumbuhkan kembali layanan ekosistem. Akarnya akan membantu peresapan, serasahnya menjadi sumber nutrisi, bunganya menjadi pakan dan gizi serangga juga lebah, buahnya menjadi makanan bagi aneka satwa. Dan dahan serta rantingnya yang ternaung rimbun dedaunan menjadi tempat berteduh, beristirahat juga bersarang bagi aneka binatang. Karena hanya mengejar hijau, maka yang kita temui adalah keteduhan yang sepi. Hamparan hijau namun jauh dari bebunyian, kicau, gemerepak dari kepak sayap serta cuitan aneka serangga dan satwa lainnya. Begitulah hijau di zaman para pengagum revolusi.



sekelompok Bekantan di DAS sungai Mahakam


Burung Bangau di DAS Sungai Mahakam

Salah satu areal DAS yang dilindungi










Komentar