Oleh : Nur Hamid, M.Pd, Pengajar Kimia di MAN 1 Samarinda.
Hidup sehat adalah dambaan setiap manusia di muka bumi, karena nikmat sehat
adalah harta yang paling utama dalam menunjang kelancaran beraktifitas
sehari-hari. Untuk mencapai kondisi sehat, berbagai macam hal dilakukan, mulai
dari mengonsumsi makanan sehat, menambahkan suplemen harian, hingga mengonsumsi
minuman yang katanya dapat menetralisir “ion jahat” dalam tubuh. Satu hal yang
paling menggelitik nalar saya sebagai guru kimia, adalah ketika ada seorang
rekan kerja yang rutin mengonsumsi air alkalin. Yang katanya dapat dijadikan
sebagai detoks dan antioksidan sehingga terlihat lebih muda.
Air alkalin adalah air minum yang diklaim memiliki pH diatas 7 yaitu
sekitar 9-9,5 yang dalam istilah kimia disebut basa. Selain itu, air alkalin
konon katanya lebih enak, mampu menghidrasi tubuh lebih baik, memiliki ukuran
molekul yang lebih kecil sehingga mudah diserap tubuh, menetralkan radikal
bebas, sebagai detoksifikasi dan antioksidan, serta meningkatkan energi dan
mampu mengurangi rasa sakit.
Mari kita ungkap faktanya secara kimia, istilah air terionisasi adalah hal
yang tidak mungkin, karena adanya ikatan hidrogen dalam molekul air yang
menyebabkan molekul air akan berikatan dan berganti pasangan secara terus
menerus dan bergantian dengan molekul air lainnya, sehingga tidak mungkin
berubah menjadi bermuatan. Air yang baik untuk tubuh adalah air dengan kondisi
netral yaitu pH 7, jika dibawah tujuh maka akan bersifat asam dan jika diatas
tujuh akan bersifat basa. Bagaimana jika kita mengonsumsi air dengan pH tidak
netral ?. Secara alamiah, darah kita memiliki buffer/penyangga pH yang berada
pada level 7,3-7,4 yang otomatis akan mempertahankan pH tubuh dalam level
tersebut. Jika terjadi perubahan pH melalui makanan atau minuman, maka asam
lambung akan menetralkan, kemudian dibuang melalui air seni dan karbondioksida
ketika bernafas.
Setelah melalui lambung, maka akan terjadi penyerapan di usus. Sebelum ke
usus, makanan/atau minuman akan melalui pankreas yang tugasnya menetralisir
asam lambung dan menjadikannya lebih basa, sehingga dapat dikatakan bahwa air
alkalin tidak memiliki fungsi melebihi air minum pada umumnya, jadi tidak perlu
membeli air yang harganya jauh lebih mahal, apalagi sampai membeli mesin water alkalizer.
Berdasarkan fakta diatas, ternyata hoax
dapat dijadikan suatu alat untuk memperoleh keuntungan oleh pihak tertentu,
bahkan dapat digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan produk atau barang yang
dinilai dapat menjadi pesaing bisnis. Yang sangat disayangkan, penyebaran hoax menjadi sesuatu yang lumrah melalui
media sosial, yang penyebarannya sangat cepat. Para penyebar hoax terkadang ingin terkesan update terhadap berita terkini sehingga
ikut-ikutan sharing berita tanpa
berfikir dampaknya bagi para pembaca yang umunya percaya begitu saja dengan
berita yang disebarkan. Dan parahnya lagi jika penyebar hoax adalah seorang guru, yang akhirnya menyampaikan berita hoax kedalam pembelajaran. Maka berita
ini akan menjadi rantai hoax yang
tidak ada habisnya.
Perlu adanya edukasi terhadap hoax yang
menjurus kepada makanan, minuman, ataupun hoax
yang terkait dengan mata pelajaran kimia. Maka sudah sepantasnya guru kimia melakukan
suatu project inovasi melawan hoax
yang dapat menghentikan hoax
disekolah dengan harapan peserta didik akan membantu menyebarkan upaya anti hoax ini ke lingkungan sekitanya melalui
media sosial.
Project yang dilakukan diinisiasi melalui ekstrakurikuler KIR (Kelompok
Ilmiah Remaja) MAN 1 Samarinda, dengan label project “Melawan Hoax dengan Kimia”, dimana peserta didik
yang tergabung dalam ekstrakurikuler KIR, diminta untuk mencari berita hoax yang saat ini sedang marak. Tugas
mereka adalah menggali fakta dan datanya, mencari kejanggalan informasi, hingga
membuktikan secara ilmiah di laboratorium, yang kemudian hasilnya akan ditelaah
bersama dan akan diinformasikan melalui mading sekolah, dipresentasikan
dikelas, dan disebarkan melalui media sosial.
Tugas anggota KIR yang pertama adalah, melakukan survey mengenai berita
hoax yang paling sering diperoleh peserta didik di MAN 1 Samarinda. Berdasarkan
hasil survey kepada peserta didik MAN 1 Samarinda, dari 100 responden, 84
diantaranya mengatakan pernah mendapatkan broadcast
mengenai bahaya makan udang dan vitamin C yang katanya menyebabkan kematian.
Dan parahnya 72 responden mempercayai berita tersebut dan menghindari makan
udang dan minum jeruk ketika makan di rumah maupun di tempat makan.
Berita
broadcast yang diterima adalah
sebagai berikut : “Seorang wanita meninggal mendadak dengan lima
panca indera keluar darah, setelah diselidiki ternyata wanita ini meninggal
bukan karena bunuh diri atau dibunuh, melainkan karena ketidaktahuan tentang
racun akibat makanan. Wanita ini ada kebiasaan minum vitamin C
tiap hari. Ini tidak masalah. Masalahnya, malam itu wanita ini kebanyakan makan
udang. Sebenarnya cuma makan udang saja juga tidak masalah, karena orang
rumahnya juga banyak makan udang malam itu dan tak ada yang meninggal. Tetapi,
karena udang mengandung Arsenic Pentoxide (As2O5),
dan berhubung habis makan udang wanita itu minum Vitamin C, terjadilah reaksi kimia di dalam perut
yang membuat As2O5 berubah
menjadi Arsenic Trioxide (As2O3) yang sangat beracun. Bahaya
kematian akibat dari kejadian ini: hati, jantung, ginjal, pembuluh darah rusak,
usus keluar darah, pembuluh darah melebar hingga wanita itu meninggal
mengenaskan dengan kelima panca indera keluar darah. Info bahaya : jadi hati-hati, setelah banyak
makan udang jangan minum vitamin C pada saat yang bersamaan”.
Jika ditelusuri secara ilmiah,
berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan dan kebenarannya perlu
dibuktikan. Oleh sebab itu melalui gerakan melawan hoax, siswa diminta untuk mencari fakta dan data yang terkait
dengan informasi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian
dari Dartmouth, Amerika Serikat, mengungkapkan banyak produk makanan organik,
termasuk suplemen, yang dikenal sebagai sirup beras merah memiliki konsentrasi
arsenik yang jauh lebih tinggi dari makanan diet organik tanpa sirup lainnya. Mereka menguji
beberapa bahan makanan organik, termasuk yang ada di dalam formula susu bayi,
sereal, dan makanan sarapan berenergi. Tim juga menguji suplemen energi yang
digunakan oleh atlet maraton dan sepeda.
Salah satu bahan yang
diuji adalah susu formula bayi yang memiliki tingkat arsenik enam kali lebih
tinggi dari batas minuman air bersih, yaitu 10 bagian per milyar (ppb) menurut
Environmental Protection Agency (EPA). Sirup beras cokelat banyak digunakan
dalam makanan organik sebagai pilihan pemanis sehat. Varian beras merah biasa
digunakan juga sebagai alternatif untuk sirup jagung dengan kandungan fruktosa
tinggi. Namun, setelah itu muncul kritik bahwa sirup jagung merupakan bahan
yang jauh lebih berbahaya daripada gula dan secara substansial dapat
memperparah obesitas.
Kecenderungan beras
untuk memiliki konsentrasi arsenik yang lebih tinggi tergantung dari cara
bagaimana beras itu tumbuh. Ketika padi dibudidayakan, padi menyerap senyawa
yang dikenal sebagai silika. Senyawa ini membantu tanaman tumbuh lebih lebih
baik. Saat padi ditanam, arsenik bertransformasi mirip silika sehingga ikut
terserap. Beras merah
menyerap arsenik lebih banyak dari beras putih. Sebab lebih banyak arsenik yang
terserap dalam sekam beras merah.
Sekarang mari kita fikirkan bersama, seandainya informasi tentang campuran
udang dan vitamin C itu benar, maka berapa banyak orang diet yang meninggal
tiba-tiba dikarenakan memasukkan beras merah yang menyerap arsenik dan jambu
biji yang memiliki kandungan vitamin C sebesar 206 mg, lebih tinggi
dibandingkan dengan buah jeruk yang hanya 59-83 mg per satu buahnya, ke dalam menu dietnya ?. Dan berapa banyak
bayi yang akan meninggal dikarenakan bubur atau sereal yang tercipta dari
campuran susu formula dan buah yang kaya vitamin C seperti, pepaya dan
strawberry yang umumnya dijadikan perasa.
Melalui fakta yang diperoleh, peserta didik diminta untuk menyajikan hasil
telaahnya yang kemudian ditampilkan ke mading sekolah dan menyebarkannya
melalui grup line MAN 1 Samarinda. Sehingga satu berita hoax berhasil dipatahkan melalui analogi yang rasional dan
berdasar. Harapannya informasi ini akan segera menyebar dan menyadarkan
masyarakat terutama warga MAN 1 Samarinda untuk tidak menelan mentah-mentah
berita hoax.
Berita hoax berikutnya yang
santer di kalangan pelajar MAN 1 Samarinda adalah bahaya minuman yang
mengandung aspartam. Diberitakan pada informasi hoax bahwa Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menginformasikan bahwa
saat ini sedang ada wabah pengerasan otak (kanker otak), diabetes, dan
pengerasan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh beberapa minuman,
seperti extra joss, M-150, kiranti, Kratingdaeng, Hemaviton, Marimas, Segarsari
sachet, Pop Ice, Gatorade, dan beberapa minuman serbuk lainnya, yang disebabkan
oleh penggunaan gula sintetis yaitu aspartam yang katanya lebih keras dari
biang gula.
Menanggapi kabar yang
beredar tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI),
Dr. Prijo Sidipratomo melalui siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, menyatakan berita tersebut bukan berasal
dari IDI atau PBIDI.
"Setiap pernyataan resmi dari PBIDI dikeluarkan secara tertulis dengan menggunakan kop surat resmi organisasi dan ditandatangani Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal," ujar Prijo. beliau menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan tidak mudah percaya dengan kabar yang belum terbukti kebenarannya dan untuk mau melakukan pengecekan terhadap kebenaran berita tersebut ke IDI atau Dinas Kesehatan setempat.
"Setiap pernyataan resmi dari PBIDI dikeluarkan secara tertulis dengan menggunakan kop surat resmi organisasi dan ditandatangani Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal," ujar Prijo. beliau menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan tidak mudah percaya dengan kabar yang belum terbukti kebenarannya dan untuk mau melakukan pengecekan terhadap kebenaran berita tersebut ke IDI atau Dinas Kesehatan setempat.
Berdasarkan studi literatur dan
berita aktual yang dilakukan oleh tim “Melawan Hoax dengan Kimia”, diperoleh fakta bahwa Aspartam
adalah pemanis buatan yang rendah kalori, terdiri atas asam amino yang umum
yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Aspartam memiliki rasa manis 200 kali
lipat dibandingkan gula biasa. Pemanis ini umum digunakan sebagai pengganti
gula untuk penderita diabetes, dan sebagai pemanis pada berbagai makanan dalam
kemasan. Aspartam telah disetujui oleh FDA (badan yang berada di bawah
Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat (United States Department of Health
and Human Services)) sebagai pemanis buatan yang aman untuk
dikonsumsi sejak tahun 1981 silam.
Meskipun demikian
berbagai penelitian juga terus dilakukan untuk memastikan keamanan aspartam.
Pada 8 Mei 2006 lalu FDA telah mengeluarkan pernyataan melalui situs resminya
yang menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada penelitian yang didukung dengan
data yang akurat yang menyatakan bahwa aspartam mempunyai efek samping
berbahaya seperti diisukan diatas.
Pada tahun 2005 lalu,
Yayasan Ramazzini Eropa (Eurropean Ramazzini Foundation/ERF) mempublikasikan
penemuannya berdasarkan studi pemberian makan aspartam jangka panjang pada
tikus. Penelitian dari ERF ini menyimpulkan bahwa aspartam menyebabkan kanker dan menyarankan
penggunaan dan konsumsi pemanis sebaiknya dievaluasi kembali. Namun, setelah Otoritas Keamanan Makanan Eropa
(European Food Safety Authority/ EFSA) meninjau kembali hasil penelitian ERF.
EFSA menyatakan bahwa kesimpulan ERF yang menyatakan aspartam bersifat
karsinogenik (penyebab kanker) tidak didukung oleh data dan tidak perlu
meninjau pendapat peneliti ERF yang
meragukan keamanan aspartam, apalagi merevisi asupan harian yang diperbolehkan
(Acceptance Dailly Intake).
Studi tentang aspartam
juga dilakukan di Amerika
untuk menepis isu yang menghubungkan aspartam dengan kanker. Akhirnya
penelitian dilakukan terhadap manusia bukan pada tikus atau hewan mengenai dampak
aspartam. Hasil penelitiannya dilaporkan pada 4 april 2006 dalam pertemuan
American Association For Cancer Research. Hasil penelitian ini disampaikan oleh
Michael Jacobsone , pemimpin dari Center For Science In the Public Interest,
dimana penelitian besar ini menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan
bahwa minuman soda yang mengandung aspartam dapat meningkatkan resiko
terjadinya kanker. Hasil penelitian ini memperbaiki anggapan tentang resiko buruk
penggunaan aspartam.
Asupan harian yang
diperbolehkan (Acceptance Dailly intake/ADI) adalah tingkat yang konservatif
yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dabandingkan tingkat
maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang.
Dalam meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaan aspartame FDA telah
memberikan batas batas pemberian yang dianjurkan. Ukuran yang dipergunakan
adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi
secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan resiko.
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),
mengijinkan aspartam sebagai pemanis buatan dengan ADI sebanyak 40 mg/kg berat
badan. Pada kenyataannya jumlah yang kita konsumsi hanya 10 % dari ADI. Hal ini disebabkan
oleh tingkat kemanisan yang tinggi pemanis tersebut, artinya jumlah yang
sedikit telah mampu meberikan rasa manis yang tinggi.
Mari sekarang kita merujuk pada konsumsi harian gula murni, yang ternyata
penggunaannya tanpa batas yang justru memicu munculnya penyakit diabetes.
Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan bahan pangan murni yang katanya lebih
alami ternyata juga dapat menjadi agen terciptanya penyakit dalam tubuh
pengguna. Segala sesuatu yang telah dinyatakan aman, dalam batas penggunaan
normal, maka sudah selayaknya untuk dikonsumsi, dikarenakan sebelum beradar di
masyarakat, makanan telah melalui serangkaian uji hingga diperoleh izin
produksinya. Penyakit yang timbul dari makanan disebabkan karena segala sesuatu
yang berlebihan bukan hanya ditinjau dari segi sintetis atau alaminya saja.
Oleh sebab itu, melalui langkah kecil yang dilakukan oleh tim “Melawan Hoax dengan Kimia” sebagai agen anti hoax di MAN 1 Samarinda, diharapkan akan
membawa perubahan besar terhadap pola pikir masyarakat awam. Hindari pemikiran
yang selalu menyudutkan bahwa kimia identik dengan zat berbahaya, padahal semua
lini kehidupan manusia tidak terlepas dari kimia. Justru dengan belajar kimia,
peserta didik mampu membentengi dirinya dari berita hoax yang marak di
masyarakat.
Fakta dan data yang telah dibuat oleh tim, disebarkan melalui media sosial
degan harapan dapat menggempur berita hoax
terkait bahan kimia. Terlepas dari usaha peserta didik MAN 1 Samarinda dalam
memerangi hoax, yang tak kalah
pentingnya adalah bagaimana pengguna telepon seluler untuk lebih cerdas dan
lebih bijak ketika menyebarkan informasi yang tidak jelas dasar dan sumbernya.
Pengguna smartphone haruslah lebih cerdas dalam mengelola informasi. Akhir
kata, mari kita melawan hoax dengan
kimia.
#antihoax
#marimas
#pgrijateng
Komentar
Posting Komentar