Wisata Halal di Kota Bangun, Kalimantan Timur : Fear, Curiosity, Excitement

Fear, curiosity, excitement.
Tiga kata diatas mewakili ilustrasi emosi kami berdua ketika memutuskan destinasi liburan kami kali ini. Tahun-tahun sebelumnya kami memilih liburan tahun baru keluar kota, melancong, menikmati pesta kembang api, dan berbelanja ke tempat yang belum pernah kami kunjungi. Selalu kota dengan pusat grosir yang memanjakan hasrat belanja istri.
Setelah berunding cukup lama, dengan alasan perlunya menggali kekayaan budaya sendiri (alasan klise karena minim budget) kami akhirnya memutuskan untuk liburan di propinsi sendiri. Kalimantan Timur. Awalnya kami bingung, wilayah mana yang akan menjadi destinasi liburan kami karena kami tinggal di ibukota Kalimantan Timur yaitu kota Samarinda. Dengan bermodalkan sosial media akhirnya kami menemukan salah satu komunitas yang menyediakan jasa destinasi ke salah satu desa budaya melayu lawas yaitu desa Kedang Ipil yang berada di Kota Bangun Kalimantan timur.
Ketakutan muncul ketika kami mendapatkan informasi bahwa masyarakat Desa kedang ipil merupakan campuran antara suku kutai asli dan dayak, mereka meyakini nenek moyang mereka sudah bermukim di desa kedang ipil sejak awal.  Mayoritas penduduk nonmuslim (70%) dan sisanya beragama islam. Namun kehidupan bertoleransi agama sangat di junjung tinggi di desa kedang ipil.
Ketakutan utama adalah kekhawatiran masalah syar’i, dikarenakan kami akan berinteraksi dengan adat budaya yang bisa jadi tidak sesuai syariat islam, kekhawatiran mengenai tempat ibadah,  termasuk dalam hal memperoleh makanan halal. Sebagaimana yang telah disepakati oleh rapat pleno Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia terkait pedoman penyelenggaran pariwisata berdasarkan prinsip syariah disebutkan bahwa destinasi wisata wajib terhindar dari: kemusyrikan, khurafat, maksiat, zina, pornografi, pornoaksi, minuman keras, narkoba dan judi, serta pertunjukan seni dan budaya yang tidak bertentangan prinsip syariah. Selain itu Destinasi wisata wajib memiliki fasilitas ibadah, makanan dan minuman bersertifikat halal MUI (Majalah Gatra edisi 49 tahun XXII, yang beredar 6-12 Oktober 2016).
Berangkat dari rasa kekhawatiran, kamipun menyiapkan banyak hal- termasuk makanan- yang sekiranya dapat mengurangi interaksi kami dengan hal-hal yang tidak halal. Begitu sampai di tempat tujuan wisata, kami diarahkan oleh pemandu wisata menuju lamin (rumah adat) dimana warga desa Kedang Ipil berkumpul. Mereka menyambut kami dengan ramah menyiapkan makan siang dengan aroma nasi yang berasal dari beras gunung yang mengundang selera. Rupanya pemandu wisata memahami kekhawatiran kami dan menjelaskan bahwa kerukunan antar agama di desa Kedang Ipil menyepakati bahwa tidak ada bahan makanan yang diperoleh dari luar desa, dengan kata lain semua bahan makanan benar-benar dari hasil panen berkebun dan penangkapan ikan secara tradisonal dan pengolahannya sesuai syariat islam. Kamipun makan dengan lahap.
Kedang Ipil adalah Desa tertua di Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa Kedang Ipil sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka dan berdiri sejak tahun 1917. Adat budaya yang unik dan khas dari desa Kedang Ipil adalah amalgamasi antara suku Kutai dan suku Dayak yang umumnya tidak ditemui pada desa lainnya. Bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat adalah bahasa Kutai dengan logat dayak yang kental dan mereka menyebutnya melayu Kutai, bahkan ada beberapa kosakata yang berbeda dengan bahasa Kutai pada umumnya.
Pada dasarnya suku Dayak dan suku Kutai berasal dari nenek moyang yang sama. pengelompokan Suku Dayak di hulu sungai dan Suku Kutai di hilir sungai bersifat sosioreligius, bukanlah geneologis. Mereka awalnya berasal dari ras yang sama yaitu Deotro Melayu, namun Suku Kutai banyak terpengaruh oleh ras Proto Melayu (Banjar, Bugis, dan Jawa), maka suku ini lebih suka dikelompokkan sebagai Proto Melayu.
Ras Proto Melayu mengidentikkan Dayak sebagai orang-orang pedalaman yang tidak beragama Islam dan Kutai diidentikkan dengan penduduk Proto Melayu yang beragama Islam. Sedangkan orang Dayak menyebut orang Islam sebagai "haloq" yang berarti orang asing, karena dianggap telah keluar dari kepercayaan adat nenek moyang. Orang Kutai cenderung enggan disebut orang Dayak, sebab mereka beragama Islam.
Kerumitan akulturasi suku Kutai dan suku Dayak justru dijawab oleh desa Kedang Ipil yang mampu bertahan hingga satu abad. Bahkan keturunan mereka memiliki komitmen yang besar untuk tetap mempertahankan adat budaya mereka yang mereka sebut dengan “Adat Lawas”.
Setelah mempelajari sejarah dan menikmati keindahan alamnya, salah satunya adalah air terjun Putang dengan wisata tubing di dalamnya, kami diantar oleh pemandu wisata untuk beribadah di musholla. Suasana terasa syahdu karena jauh dari keramian kota. Bahkan sinyal handphone tidak terdeteksi di desa ini.
Esok harinya kami diarahkan menuju kota bangun dengan destinasi utama adalah jembatan terpanjang di Indonesia, yaitu jembatan Martadipura di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), yang  memiliki panjang 15,3 km. mengalahkan rekor panjang Jembatan Suramadu yang hanya 5,4 kilometer.
Pembangunan jembatan ini adalah salah satu upaya pemerintah propinsi Kalimantan Timur dalam upaya menghubungkan akses transportasi darat yang mencapai 172 km. Sehingga membuka isolasi transportasi darat di semua kecamatan di hulu Mahakam Kutai Kartanegara yang selama ini hanya bisa ditempuh melalui sungai. Data Dinas Bina Marga dan Sumber daya Air (DBMSDA) Kukar menyebutkan, Jembatan Martadipura tak hanya sebagai penghubung bibir Sungai Mahakam di Kota Bangun. Badan dan fondasi jembatan terus dibangun hingga belasan kilometer di atas rawa dengan metode pile slab (jalan layang). Dari permukaan tanah, pile slab itu memiliki panjang dua hingga tiga kilometer. Meski lokasinya berada di atas rawa dan berfungsi sebagai penghubung, konstruksi tersebut termasuk kategori jembatan. Akses jalan pendekat ini akan terhubung ke Desa Sebelimbingan di Kembang Janggut menuju Kecamatan Kota Bangun.
Ketika melewati jembatan tersebut, kami mengunjungi 5 kecamatan yang selama ini terisolir, dan menikmati kuliner khas yaitu nasi kuning dengan lauk Haruan, kerupuk haruan, rimpi, dan makan kuini (sejenis mangga yang berbau harum) sepuasnya dengan harga murah, karena di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda, harga Kuini bisa menjadi 5 kali lipat harganya. Selain itu kita akan disuguhkan dengan situs kerajaan Kutai, yaitu kerajaan hindu tertua yang berdiri sekitar tahun 400 M yang terletak di bibir sungai Mahakam. Pemandu wisata juga memberikan penjelasan terkait penaklukan kerajaan Kutai sehingga mereka memeluk agama Islam.
Destinasi terakhir kami adalah, trip Pesut Mahakam. Yaitu perjalanan menyusuri sungai Mahakam di wilayah Kota Bangun dari hulu ke hilir untuk melihat mamalia air tawar yang hanya ada di Kalimantan Timur dan jumlahnya saat ini kurang dari 100 ekor, dan masuk dalam kategori terancam punah.  Dengan motoris kapal yang berpengalaman, terkadang kapal berhenti untuk melihat kemunculun Pesut Mahakam di permukaan untuk mengambil udara. Sungguh pengalaman yang luar biasa ketika melihat Pesut Mahakam muncul ke permukaan dan menyemburkan air dari lubang udara pernapasannya.
Tak hanya melihat Pesut Mahakam, kami juga disuguhkan pemandangan menarik tingkah pola satwa yang juga khas Kalimantan yaitu Bekantan yang tersebar di sepanjang hutan yang dilalui aliran air Sungai Mahakam. Untuk wisata yang satu ini, kami menghabiskan dua memori kamera, karena setiap kemunculan Pesut Mahakam kami selalu memotret untuk meilhat siripnya. Hal yang menarik adalah sirip Pesut Mahakam ibarat sidik jari pada manusia. Nantinya hasil jepretan kami akan dicocokkan dengan database sirip Pesut yang telah diberi nama oleh komunitas Pesut Mahakam.
Tentunya destinasi yang kami lakukan selama 3 hari tersebut akan menjadi sempurna jika dibarengi dengan travel/agen perjalanan yang memiliki konsentrasi penuh terhadap wisata halal yang difatwakan oleh MUI seperti Cheria Halal Holiday sebagai biro perjalanan yang mengkhususkan diri membuat program wisata halal mendukung penuh terbitnya Fatwa MUI bernomor 108/DSN-MUI tentang pariwisata syariah, bentuk dukungan yang diberikan oleh Cheria Halal Holiday adalah dengan terus melakukan sosialisasi kepada umat Islam akan pentingnya wisata halal dalam pembentukan karakter keluarga muslim.

Studi kelayakan wisata halal di Kalimantan Timur patut untuk dikembangkan, karena akulturasi agama islam terasa kental dengan adanya  situs sejarah proses pergeseran kerajaan hindu tertua yaitu kerajaan Kutai menjadi kerajaan Kartanegara Ing Martadipura yang memeluk agama islam. Selain itu kekayaan alam dengan potensi satwa khasnya dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi turis mancanegara sehingga Kalimantan Timur dapat mejadi barometer suksesnya destinasi lokal berskala internasional.

<a href="http://www.cheria-travel.com/2017/04/lomba-menulis-cheria.html">
<img alt="Lomba Menulis Artikel Cheria Wisata" height="300px" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvb6-FvrwqwQYGBZzirRAp0U-BisQx1TXHXEN484mUAqniy0ug69J9CSMCQB1NjlDyXYIqXmNciwHVzC_W2DcUxrOr8t_SSgHpbRHAE4a1yZxF6_aUDL3rdZAs9iKJzOkaSNftNantZ_4/s320/Banner+Lomba+blog+kontes+Ke+6.jpg" width="300px" /></a>






Komentar