PERAN CITY BRANDING
DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI
ASEAN
(MEA)
Resensi buku
Judul :
Branding Tempat
: Membangun Kota, Kabupaten, dan
Propinsi Berbasis Identitas
Penulis : M. Rahmat
Yananda dan Ummi Salamah Jumlah Halaman :
viii + 244
halaman; 15,5
cm x 23 cm
Penerbit : Makna Informasi
Tempat/tahun terbit :
Jakarta/2014
Tulisan ini telah diikutkan lomba dalam rangka kegiatan PUSBI Kaltim oleh
Bank Indonesia dan meraih juara 1
Brand dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi merek dan di
dalam kamus besar
bahasa Indonesia diartikan
sebagai tanda yang dikenakan
oleh pengusaha
(pabrik, produsen, dan sebagainya) pada produk yang dihasilkan sebagai tanda pengenal. Di dunia pemasaran, brand bukanlah sekedar
tanda pengenal produk,
tetapi janji anda kepada pengguna jasa anda. Branding haruslah mencerminkan apa yang menjadi tujuan
kita dengan tetap berfokus pada identitas kita sesuai dengan
kearifan lokal yang dimiliki.
Branding tempat atau city
branding adalah
sebuah istilah
yang
sering
kita dengar dalam perkembangan perkotaan dewasa ini. Branding tempat adalah suatu
upaya
bagi kota, kabupaten, dan
propinsi dalam
menjawab
arus globalisasi yang menjadi sebuah
gerakan yang mengubah
segala aspek kehidupan
masyarakat di berbagai penjuru dunia.
Wujud dari
globalisasi
adalah
terwujudnya
Masyarakat Ekonomi Asean atau yang kita
sebut dengan
MEA yang digagas oleh negara-negara ASEAN yang terdiri dari
Brunei, Filipina, Indonesia,
Kamboja,
Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam yang akan
diberlakukan
mulai 2016
termasuk Indonesia dengan tujuan mewujudkan wawasan
ASEAN 2020
Fakta nyata dari berlangsungnya MEA adalah masuknya barang atau produk
olahan
dari
negara tetangga di pasar modern dan
maraknya
pekerja dari negara tetangga yang memiliki
skill
yang mumpuni. Sasaran utama negara tetangga adalah kota-kota di Indonesia yang memiliki konsep kota yang jelas yang dituangkan dalam city branding.
Konsep “Branding tempat” dirasa perlu ketika
konsep sentralisasi dinilai kuno dan pintu otonomi daerah telah terbuka, sehingga menjadi kesempatan bagi kota-kota
di berbagai daerah untuk melakukan perbaikan. Bahkan dengan
city branding kita bisa mengenali suatu daerah di Indonesia
melalui satu kata. Dengan catatan
kata
atau kalimat tersebut benar-benar
mewakili
keadaan yang terjadi di tempat
tersebut.
Ketika kita
mengatakan “macet”, maka
konsep branding yang tercetus di benak kita adalah ibukota Indonesia yaitu Jakarta, walaupun tidak semua daerah di Jakarta
selalu mengalami kemacetan,
tetapi brand ini
menjadi asosiasi negatif dari kota
Jakarta.
Oleh sebab itu, city
branding menjadi sesuatu yang dibutuhkan
oleh kota-kota
dalam menghadapi arus globalisasi yang dimulai oleh MEA.
Walaupun dengan
kemungkinan kegagalan mencapai 85 % dikarenakan city branding melibatkan semua
pemegang kebijakan termasuk
masyarakat
awam yang kadang tidak
memahami
konsep city branding
daerahnya
sendiri.
Dalam membangun
brand, terlebih dahulu sebuah kota
harus mampu
membangun identitas. Pencarian identitas kota adalah hal terpenting dalam proses branding, sebelum proses ini berlanjut pada
tujuan utamanya yaitu membangun citra.
Citra merupakan proyeksi dari identitas.
Citra yang ideal adalah
citra yang dekat
dengan
identitas yang dimiliki, tanpa
mengalami banyak distorsi. Artinya kegagalan
mewujudkan citra adalah kegagalan meraih identitas sehingga masyarakat
justru bingung dengan
konsep city branding yang ditawarkan oleh pemerintah kota, kabupaten, maupun propinsi. Disinilah kadang city branding hanya menjadi slogan semata tanpa adanya bukti nyata dari brand
yang sedang dibangun.
City branding kota, kabupaten, dan propinsi tidak dapat dipisahkan dari kepaduan identitas daerah dan identitas pemimpin. Kedua identitas ini jika menyatu
akan membentuk brand yang kuat sehingga menyatukan visi seluruh pemangku
kepentingan baik itu warga, jajaran pemerintah, wirausahawan, investor, pemerintah daerah
lainnya
dalam melihat
arah
dan kebijakan pembangunan
suatu daerah
sehingga diharapan muncul respon positif.
Secara institusi, branding dapat membangun identitas kota yang jelas sehingga berasosiasi positif dan
memperbaiki citra kota. Artinya, ketika branding
yang dibangun
memiliki
kekuatan dan visi yang jelas, maka tanpa dipaksa semua lapisan masyarakat akan bergerak mewujudkan apa yang menjadi mimpi daerahnya menuju
citiy branding yang diinginkan
Untuk sampai ke tahap city branding yang sukses, maka pemimpin daerah
yang tengah menjabat di suatu kota, kabupaten, dan propinsi harus paham identitas
daerah masing-masing.
Yaitu identitas
yang berdaya saing.
Perpaduan identitas
daerah dan gaya kepemimpinan yang sesuai merupakan langkah awal pembentukan brand suatu daerah.
Contoh kesuksesan
sinergitas pemimpin yang memiliki
kebijakan dan program
yang memadukan identitas daerah adalah kota Bandung dan
kota Surabaya. Ridwan
Kamil mampu mengantarkan brand Bandung sebagai kota smart city atau kota kreatif.
Hal
ini dibuktikan
dengan adanya taman-taman
tematik yang bermunculan di berbagai
lokasi di dalam kota. Jalur pedestarian diperbaiki sehingga menjadi nyaman untuk
berjalan kaki dan
para pedagang kaki lima di beberapa titik berhasil direlokasi. Ide-ide
dari Eropa itu “dicontek” Ridwan Kamil dan direalisasikan di Bandung. Hasilnya warga Bandung dan wisatawan menjadi takjub melihat bandung tampil beda dengan yang dulu. Menariknya lagi, sebagian besar pembuatan taman itu tidak didanai dari APBD tetapi
dari
dana-dana CSR.
Tak kalah fenomenal
adalah kegigihan walikota Surabaya, Tri Rismaharini,
yang biasa dipanggil Risma untuk menjadikan
Surabaya sebagai
“kota taman” yang mulai membuahkan hasil. Surabaya sebagai kota pantai yang panas menjadi
sejuk
karena
telah
hijau
dan elok dipandang
mata. Selain
itu
beliau mengukuhkan
Surabaya sebagai kota kreatif dengan program pengembangan industri kreatif yang didapat dari insiatif masyarakat yang didukung oleh pemerintah kota. Pemkot Surabaya melalui
program kinetic
mengundang anak muda seluruh Indonesia untuk merancang ulang
maskot
kota Surabaya.
Walikota Surabaya menyadari bahwa maskot dapat menciptakan city
branding
yang positif sehingga membentuk identitas kota dan menciptakan citra positif pula. Sekaligus menjadi media dalam menyampaikan pesan yang efektif ke masyarakat
luas.
Mencontoh dari kesuksesan dua kota tersebut, pemerintah kota Samarinda juga
berupaya membangun brand agar memiliki
konsep pembangunan kota yang jelas. Sebagai ibukota propinsi Kalimantan
Timur, Samarinda layak
menyandang posisi
strategis dalam peta dan arah kebijakan pembangunan nasional.
Visi kota Samarinda adalah “Terwujudnya kota Samarinda sebagai kota metropolitan berbasis industri, perdagangan,
dan
jasa yang maju, berwawasan
lingkungan
dan hijau , serta mempunyai keunggulan daya saing untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat”. Dari visi tersebut stakeholder dapat merumuskan brand apa
yang akan dijual ke dunia Internasional.
Visi tersebut tertuang dalam city branding kota samarinda
yang disebut “Samarinda smart city branding”, yang memberikan persepsi sebagai
kota yang aman dan makmur dan menjadikan kota Samarinda sebagai
kota tujuan spesifik bagi pendatang sehingga meningkatkan ekspor dan popularitas
kota serta meningkatkan
engagement dengan warga kota. Konsep smart city ini disampaikan
oleh walikota
Samarinda H. syaharie jaang dengan
pola kerjasama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) di Bank Indonesia pada tanggal 16 Juni 2016.
Konsep smart city
ini
terbilang baru di telinga warga Samarinda, sehingga perlu
kerja keras pemerintah kota Samarinda untuk
mengenalkan konsep smart city ini kepada
warga
kota Samarinda. Jalur pendidikan dapat menjadi
sarana untuk mengenalkan konsep ini kepada generasi muda kota Samarinda melalui seminar
maupun door to door berupa sosialisasi smart city
ke sekolah-sekolah di kota
Samarinda.
Sebenarnya, kota Samarinda memiliki potensi besar untuk menjadi waterfront
city terdepan di Kalimantan dan Indonesia karena adanya sungai Mahakam dengan aliran sungai yang dapat dijadikan
sebagai sarana transportasi
yang selama ini dilewati oleh ponton batubara. Selain itu, sungai Mahakam adalah sungai
terpanjang kedua di Indonesia dengan panjang 920 km,
tentunya
bisa menjadi
objek wisata melalui
konsep
wisata air. Dalam hal
ini, Samarinda dapat belajar dari waterfront city seperti Amsterdam.
Selain itu banyak ikon di kota Samarinda yang bisa
dikembangkan, seperti Islamic center dan kampung tenun sarung Samarinda yang saat ini sedang gencar diperkenalkan
dan
berpotensi
menjadi
bagian dari branding kota Samarinda. Pemikiran
yang
tertuang
dalam
buku
Branding tempat : membangun kota, kabupaten, dan
propinsi berbasis identitas, dapat menjadi acuan bagi stakeholder kota Samarinda
untuk mengambil keputusan dalam
memilih
ikon dan
identitas
yang
menjadi
citra
warga kota
Samarinda sehingga
brand yang dibangun memperoleh
kesuksesan
seperti kota-kota lain
di Indonesia.
Ada beberapa
hal mendasar
yang
perlu diperhatikan
untuk menjalankan konsep smart city sehingga mencapai kunci keberhasilan, yaitu visi mewujudkan smart city dari pemerintah kota, keterlibatan
masyarakat, dan road map smart city yang
holistik.
City branding bukanlah substitusi strategi pembangunan daerah, tetapi hanya menjadi pelengkap yang diibaratkan sebagai
brand promise, yaitu janji pejabat daerah
yang harus ditepati karena city branding adalah mimpi pemimpin bersama seluruh warganya.
Secara keseluruhan, branding bukan hanya sekedar membuat
slogan dan maskot demi mempopulerkan sebuah
kota . Branding dilakukan untuk mempopulerkan dan menarik perhatian
investor internasional, serta
berbagai pihak yang memiliki
keinginan dan harapan
kemajuan kota di bidang ekonomi, budaya, pariwisata, dan
sebagainya. Perbaikan kota secara keseluruhan merupakan tujuan utama dari city
branding. Konsep ini
membuat kota-kota menjadi semakin kompetitif di dunia global.
Dalam taraf internasional, city branding layak dipadukan dengan leadership branding. Yaitu perpaduan konsep
kota dengan kepopuleran pemimpinnya. Seperti Ahok dengan Jakarta, Ridwan Kamil dengan Bandung, dan Risma dengan Surabaya. Tokoh-tokoh
tersebut dan asosiasinya dengan daerah
mereka menjadi bagian dari leadership branding yang menjadi
sebuah aspek penting dalam city branding, yang
bersinergi membangun citra kota.
Sehingga dapat dikatakan bahwa, branding kota
yang sukses adalah branding yang mampu
melibatkan pemimpin dan warganya,
menarik wisatawan untuk berkunjung dan
menumbuhkan kreatifitas
dan produktifitas warganya.
Sehingga
mampu bersaing dan sejajar dengan negara
ASEAN lainnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.
Komentar
Posting Komentar