Sungai Makaham adalah Sungai
terpanjang nomor 2 di Indonesia dan
terletak di Kalimantan Timur. Sungai
ini memiliki hulu sungai di wilayah Kabupaten Kutai bagian barat dan berakhir
di hilir dan masuk ke selat Makassar. Sungai ini memiliki panjang sekitar 920
km. Jika ditengok secara sekilas, maka tidak ada hal yang menarik dari Sungai
ini, apalagi ketika kita berada di Ibukota Kalimantan Timur yaitu kota Samarinda,
Sungai Mahakam hanya menjadi tempat hilir mudik pontoon yang memuat batubara,
dengan view terbaik lalu lintas pontoon tepat di seberang kantor gubernur
provinsi Kalimantan Timur yang biasa disebut tepian. Di tepian tersebut, kita dapat melihat ikon
kota Samarinda yaitu berupa 3 ekor patung Pesut Mahakam. Dan uniknya sebagian
besar warga kota Samarinda tidak pernah melihat wujud asli dari mamalia air
tawar tersebut.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah salah satu
satwaliar Indonesia yang berada dalam kondisi terancam punah. Populasinya pada
tahun 2016, tercatat sebanyak 86 individu. Karena populasinya yang kecil, sejak
tahun 2000, badan koservasi dunia (International Union for Conservation of
Nature and Natural Resources/IUCN) menetapkan Pesut Mahakam dalam status kritis
yang berarti populasinya terancam punah. Lembaga lain, yaitu CITES memasukkan
Pesut Mahakam ke dalam Appendix I yang artinya peredaran jenis satwaliar yang
sangat terancam punah ini harus diatur dengan ketat. Sehingga menteri kehutanan
menetapkan Pesut Mahakam sebagai jenis satwaliar yang memperoleh prioritas
sangat tinggi untuk dilestarikan (Peraturan Menteri Kehutanan No.
P.57/Menhut-II/2008).
Di daerah aliran Sungai Mahakam ada empat kawasan konservasi
yakni cagar alam Padang Luway, cagar alam Muara Kaman-Sedulang, taman hutan
raya Bukit Soeharto, dan taman nasional Kutai. Diantara keempatnya, cagar alam
Muara Kaman-Sedulang adalah yang terpenting bagi Pesut Mahakam. Kawasan ini
menjadi pasokan pakan bagi Pesut Mahakam, sehingga keberhasilan cagar alam
Muara Kaman-Sedulang akan sangat berarti bagi kelestarian Pesut Mahakam.
Konservasi Pesut Mahakam berada di area “Open access”,
sehingga upaya konservasi harus berjalan berdampingan dengan berbagai macam
aktivitas manusia, dan bukan malah menghentikannya. Kebberhasilan konservasi
akan menunjukkan kepada kita bahwa perlindungan spesies dan habitatnya bisa
dilakukan pada areal dengan akses yang sangat terbuka seperti Sungai Mahakam.
Hal yang paling menarik dari Pesut Mahakam adalah, keunikan
sirip punggung setiap individu Pesut Mahakam yaitu memiliki perbedaan bentuk.
Kreb (2004) telah membuktikan bahwa sirip punggung Pesut Mahakam dapat
berfungsi sebagai sidik jari bagi setiap individu, seperti pola luka, tonjolan,
lekukan, kurva, lipatan, yang khas/spesifik. Sehingga sejak tahun 2005, foto
sirip punggung individu menjadi dasar bagi analisis hasil survey monitoring
populasi untuk menduga jumlah individu/kelimpahan.
Berdasarkan data dan fakta diatas, komunitas pencinta Pesut Mahakam
menggagas sebuah trip yang bernaung dalam komunitas “Save Pesut Mahakam”,
dengan tujuan setiap peserta trip dapat ikut serta membantu mengumpulkan foto
sirip Pesut Mahakam yang nantinya akan diidentifikasi bersama. Metode ini
disebut capture-mark-recapture atau metode tangkap-tandai-tangkap kembali. Metode
ini cukup efektif jika peserta trip ekowisata menggunakan kamera SLR dengan
telelens 300 mm dan continuous sequence 10 frame/detik, atau lensa zoom 70-300
mm dan kemampuan continuous sequence 3 frame/detik. Hasil dari jepretan kamera
peserta trip, akan dicocokan dengan data induk citra sirip Pesut Mahakam yang
telah diberi nama mulai dari obM-1 hingga obM-86. Jika citra sirip berbeda,
maka peserta trip berhasil menemukan satu individu Pesut Mahakam. Trip Pesut
Mahakam dilakukan secara rutin setiap awal bulan sekali, dan saat ini trip
Pesut Mahakam telah mecapai trip ke 27.
Trayek trip Pesut Mahakam pada musim kemarau dibatasi pada
segmen sungai antara Muara Kaman sampai kampung Batuq di wilayah Muara Muntai. Apabila
dirasa perlu, trip akan terus memantau hingga ke bekas habitat inti Muara Pahu-Penyinggahan
dan diperpanjang hingga sekitar Muara Buyut. Untuk anak-anak sungai Mahakam
seperti Kedang Rantau, Kedang Kepala, dan Belayan, survey dilakukan pada bagian
hilirnya saja.
Perjalanan trip berlangsung sejak 08.00 wita hingga pukul
17.00 wita. Sepanjang perjalanan, peserta trip akan disuguhkan pemandangan
indah khas perekonomian warga dan rutinitas penduduk sungai. Dan yang tak kalah
pentingnya adalah hunting foto Pesut Mahakam hingga melihat Pesut Mahakam
menyemburkan air panas dari lubang pernapasannya. Ada dua kemungkinan ketika
Pesut Mahakam menyemburkan air, yaitu menarik lawan jenis untuk menikah atau
memecah kumpulan ikan agar dapat dimangsa dengan mudah. Jika peserta trip
beruntung, maka dapat menyaksikan Pesut Mahakam sedang kawin dengan posisi yang
unik, dimana Pesut jantan akan menempel secara terbalik pada bagian bawah tubuh
betinanya.
Tak kalah menariknya adalah bonus satwaliar lainnya seperti
kera khas Kalimantan yaitu Bekantan yang hidup disekitar rawa, dimana mereka
hidup berkelompok dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Selain itu
kumpulan elang bondol yang siap memangsa ular Kadut yang hidup di rawa-rawa
tempat berkumpulnya ikan. Tak ketinggalan sebagai pelengkap rantai makanan
yaitu burung Kuntul yang asik berseliweran memangsa ikan di pinggir Sungai
Mahakam.
Jika waktu masih mencukupi, maka peserta trip juga akan mendapatkan
bonus mengunjungi situs kerajaan Kutai Mulawarman Ing Martadipura, yaitu
kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri pada abad ke-14. Ini adalah
trip dengan paket lengkap yaitu belajar sejarah sekaligus membantu upaya
konservasi dan pendataan Pesut Mahakam dengan harapan kedepannya anak cucu
masyarakat Kalimantan Timur dapat melihat sosok sebenarnya dari Pesut Mahakam yang
menjadi ikon ibukota Kalimantan Timur.
Komentar
Posting Komentar